Tampilkan postingan dengan label LOVE. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LOVE. Tampilkan semua postingan

Tentang Nikah Muda



Tentang Nikah Muda
Oleh : Harun Abdul Aziz (KangHar)*


“Run, kwe ki wis mari.. uwis tho, ngapain ngoprak-oprak perkara itu??”
Haha.. ini ni persepsi yang salah. Bukan begitu, obrolan tentang nikah itu memang ga ada habisnya. Mau kapan aja, mau generasi mana pun ya tetep aja menarik. Dan entah ya, ini tu jadi tema yang bikin peserta/audiens g bakal ngantuk, yang bikin muda mudi rela berbondong-bondong datang ke seminar, dan yang bikin kasir bookfair itu kelabakan tentunya.
Yaah, pada kesempatan ini hanya sekedar sedikit berbagi pemikiran saja kok. Hhe..
(sedikit? Ask me again, ^^..)

Oke, sebelum ngomong panjang lebar, harus saya akui bahwa dulu saya punya pikiran seperti judul diatas. Alasanya kenapa.., ya kurang lebih mirip lah alasan pasaran dikebanyakan pemuda seumuran gini. G usah disebutin satu-satu pasti udah tau wis. (hop..). hmm, dikemudian hari tekad itu semakin bulat sampai akhirnya teguran itu datang dan berakhir sampai saat sekarang ini. Jadi, tenang.. paling tidak si penulis sudah pernah merasakannya dan bukan (kaburo maqtan) lagi.
Emm tapi, di tulisan saya ini tidak ada refrensi yang jelas, data yang valid dan bukti ilmiah. Yah, sekali lagi tulisan ini hanya didasarkan pada pengalaman dan realita yang saya temui selama ini (emm,subyektif banget lah). So.. jika dirasa kurang sreg atau nggak sesuai, silahkan Alt+F4 saja agar tak sia-sia Anda menghabiskan waktu membaca celoteh g jelas ini.

Ok, back to the topic,
Ada beberapa hal yag akan saya tanggapi/komentari terakait nikah muda ini. Banyak diantara muda mudi kita ini (termasuk saya) yang salah mengartikan tentang “Nikah Muda”. Secara harfiah Nikah muda ya berarti menikah di usia muda. Muda disini tentu berdasarkan klasifikasi human psikologis pada umunya. Banyak yang mengartikan muda, Rentang waktunya pun beragam. Yang jelas, muda disini peralihan antara masa anak-anak dan dewasa. Emm, biar gampang taruh lah usia 16-22 tahun (haha.. asumsi tanpa dasar, tapi logis kok. Silahkan browsing sendiri untuk ukuran muda tu seberapa) #males golek-golek.
Pertanyaan berikutnya berada di usia berapa kita sekarang? Ho ho.. #mejeng, masih muda ternyata (read:mendekati tua) haha..

Nah.. tentang Nikah Muda sendiri,
Buaanyak muda mudi kita itu (termasuk yang nulis.. #again) terlalu terburu-buru dalam mengambil sikap dan keputusan. Sepertinya mereka (termasuk yg nulis #lagi&lagi) terjebak pada paradigma-paradigma “Nikah Muda, Why not?” ato apa lah yg sejenis itu. Seolah hanyut dalam buaian bahwa menikah adalah segalanya, kebahagiaan yang tiada tara dan opo lah kuwi.. Apalagi dalam forum-forum ngaji. Si ustadz dengan getol nya bla..blaa.blaa.. Seolah dicekoki pada sesuatu yang eehhh… banget. Apalagi anak-anak ROHIS tu. Huualah.. rasanya berbunga-bunga indaaaaaaaah bgt. Padahal ngadek (read: berdiri) we rung jejek (tegak).
Saya masih inget itu, masa2 labil yang keduwuren le dangak malah jadi khayalan mimpi di siang bolong. Weh.. jangan muna wis, remaja mana sih yang g tertarik pada obrolan ginian. Apalagi booming2 nya film Ayat-ayat cinta, KCB dsb. Wuuaah.. khayalannya melayang kemana-mana. Lulus SMA mau daftar kairo lah, Saudi ato mana lah. (hadew..) #ho’o ra Gus, lim, rif?** Haha.. KSBB an lah pokok e (read : Kelingan Sek Biyen-Biyen)

Kesalahan Pertama adalah beberapa yang saya tampilkan diatas. Paradigma yang berlebihan mengenai “Nikah” ini. Mereka terlalu banyak dicekoki oleh paradigma tersebut, entah melalui seminar-seminar, ceramah-ceramah, buku maupun film. Dan aneh nya perkara ini adalah tranding topiknya para aktifis saja(kecenderungan sih). Entah ya, apa saya yang KUPER, atau memang g tahu bener, kalo emang yang lagi ngetrend nikah muda itu rata2 dari golongan aktifis. La setiap saya gabung atau mengamati beberapa diantaranya, obrolan yang eeehh bgt tu ya tentang nikah muda ini. Yang diobrolin itu si A, B, C itu lho. Atau wah murobi nya si A sedang mengkhitbah mbak ini lho ato baru ta’arufan kirim2 biodata sama si anu si itu. Diceritain dulu bisa ketemunya dimana, oo.. ternyata Nikah di semester 3 misalnya dan bla..bla.. bla..
Buaah, g ada habisnya pokoknya.
Nah.. ini sebenarnya yang menstimulus hasrat dan keinginan untuk cepet2 nikah. Atau paradigma seperti ini ne, “sudah, ge dicepetin.. wes jodo kalian itu.” yang menjadikan mereka punya pemikiran macem2. (call : nekad-asal tanggung jawab g masalah-kebeleeet…..)
Padahal ne ya, kalo kita menilik kembali fiqih nikah, disana sudah tertera dengan jelas kok. Dan saya rasa semua juga sudah tahu bahkan lebih tahu dari saya. Bahwa ada hukum-hukum tertentu dalam nikah ini. Dimana ia makruh untuk menikah, disunnahkan/dianjurkan, hingga kapan ia berbubah menjadi wajib untuk menikah. Menikah di usia muda, secara hukum asal memang diperbolehkan. Namun juga tidak dianjurkan, apalagi diwajibkan. Tapi, bila dikaitkan dengan situasi dan kondisi pada orang yang akan menikah, hukumnya bisa bervariasi. Saya rasa temen2 sudah paham lah tentang hal itu.
Artinya bahwa memang “kemampuan” kan yang menjadi tolak ukur pernikahan ini. Jika ia mampu dan siap maka Menikah adalah anjuran. Sabda Rasul :
“Wahai kaum muda. Barangsiapa diantara kalian yang sudah memiliki “baa-ah” (kemampuan seksual), hendaknya ia menikah. Sesungguhnya yang demikian itu lebih dapat memelihara pandangan mata dan kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa. Sesungguhnya puasa itu adalah obat baginya.” (H.R. Bukhari-Muslim)
Masalah berikutnya yang muncul adalah “loh, aku ini sudah siap insyallah. Lahir batin. Kasihan dia nunggu terlalu lama..” Atau pernyataan-pernyataan lain lah. Kata “Siap” ya? Hmm,, untuk memastikan hal itu tolong bedakan deh “menurutku” dengan “kenyataan”. Hhe..
Kalo mau nuruti “menurutku” sepertinya kurang bijak juga. Apa ya.. perkembangan hormon apa gitu yang menstimulus kedewasaan seseorang kadang menyesatkan juga. Jadi agak terbiaskan antara kenyataan dan pemikirannya yang terlalu dewasa. Jika mau diingat saya dulu ketika pas menggebu-gebunya ngebet nikah, ya usia segitu masih kacangan. Mau mengelak bagaimana ya tetep aja masih bocah. Walaupun mungkin berdalih sudah punya penghasilan, mau tanggung jawab dsb. Tapi tetep aja “bocah”.
Agar kita bisa melihat “kenyataan” itu, g ada salahnya bila kita bertanya pada orang2 sekitar kita. Sudah pantaskah saya menikah sekarang? Atau sudah siapkah saya untuk berkeluarga? Jawaban dari teman dekat, sahabat, orang tua dan orang2 disekitar kita itu setidaknya dapat mewakili “kenyataan” pada diri kita masing2. (dicoba deh..!!)
Sedikit ilustrasi,
Kenyataan itu seperti ini kawan, ketika ditanya “sudah kerja nak?” iya pak, saya punya usaha ##### dan rencana akan saya besarkan bla..bla..bla.. (hop, pertimbangkan ajakan nikah laki-laki itu) 2. Iya pak, saya sudah melamar ke perusahaan ini pak.. sudah diterima nak? Sedang dalam proses pak (hop, pertimbangkan juga itu), 3. Masih sekolah nak? Oh iya pak, semester 5, doakan 1,5 tahun lagi pak (pertimbangkan juga) La trus nanti gmn ngasih makan anak saya? Emm,, insyallah ada jalan untuk itu pak, bukankah Allah tidak tidur.. dan dengan menikah sya yakin Allah memberikan jalan lebih terang dari pada sebelumnya (hoop… pertimbangkan #again)
            Dengan berat hati saya mengatakan bahwa “kepastian dan/atau kemampuan finansial” adalah pertimbangan yang benar2 harus ditimbang.
Klo perempuan gimana? Hmm, silahkan saja sih –klo menurut saya- karena pada dasarnya yang menjadi tulang punggung dan imam adalah Laki-laki. Kompetensi kualitas harus qualifight memang. Asal si calon suami benar2 matang atau lebih tua dari si perempuan saya rasa tak ada masalah untuk menikah muda. Namun, sedikit pertimbangan saja untuk perempuan. Walau bagaimana pun juga ia adalah ruh dari rumah tangga itu, kemampuannya dalam menengahi masalah, peredam dan penenang sangat dibutuhkan. Selain itu, pertimbangan yang lain adalah masa usia si perempuan itu sendiri, ya kurang lebih 21-25 tahun, Karena diusia itu organ reproduksi perempuan secara psikologis sudah berkembang dengan baik dan kuat serta siap untuk melahirkan keturunan secara fisik pun mulai matang. Pasti pada pengen kan anak yang dikandungnya sehat dan prima??

Kedua,
            Kesalahan berikutnya masih mengenai paradigma yang kurang tepat juga, Muda-mudi ini hanyut pada angan-angan bahwa menikah itu menyengkan dan membawa kebahagiaan. (y memang betul) namun, bukan hanya itu saja sob.. bagi saya Menikah adalah gerbang pertengahan hidup. Yang siap meloncat pada fase kehidupan selanjutnya. Menikah bukan akhir dari segalanya, seolah2 nikah itu gregetan banget, ditunggu2 sampe nglamunin. Kapan ya nikah.. punya momongan, pacaran sama suami/istri. Dan sebagainya..
Paradigma ini yang sering memicu hasrat untuk cepet-cepet nikah. Padahal.. beh.. banyak lika-likunya sob. Beberapa bulan terakhir ini saya memang sering memikirkan tentang rumah tangga. Dan kebetulan memang akhir2 ini sya sedang terbentur pada urusan rumah tangga yang huaaaahhhhhhhhhhh…. Complicated banget!!!
Coba lah, pada beberapa kesempatan forum kita bahas dan diskusiin hiru pikuk nya berumah tangga, bukan hanya seneng-senengnya doang. Serius.. rumah tangga itu complicated. Percaya deh.!! (sok teu bgt sih.. _padahal belum ngincipi_hihi.. ^^). Tapi bener kok sob, rumah tangga  itu complicated bgt. Dan ini yang akan saya komentari pada bagian ketiga berikut ini.

            Ketiga, (Adanya “Batasan Kondisi”)
            Saya menerjemahkannya sebagai “batasan kondisi”. Yaitu batasan psikologis setiap orang. Se-dewasa apapun ia, ketika masih berumur 17-20 tahunan tentu akan jauh berbeda ketika ia berusia 23 keatas. Dan dengan berat hati saya mengatakan bahwa faktor usia yang terlalu muda juga sangat berdampak untuk urusan sekramat “Menikah”. Kalo ini saya berkaca pada temen-temen saya yang sudah duluan start Nikahnya daripada saya. Ada banyak problem yang ia tanggung walau ketika pas ngumpul2 gitu nggak keliatan. Serius.. saya bisa merasakan dan meraba yang sedang dialami teman saya ini. “Batasan Kondisi” ini lah yang sebenarnya mereka hadapi. Seumuran mereka harus menaggung rumah tangga dan segala macam kewajibannya, belum lagi kewajiban study nya dan kewajiban-kewajiban yang lain. Saya berikan bocoran (di usia saya, satu angkatan, tahun ini baru ospek yang ke-4, setelah pindah ke 4 universitas.)
Ok, saya tidak mengatakan bahwa keputusannya salah dan keliru. No.. justru kami malah kagum dan terpukul [gila aja, konco “plek” wis duwe bojo dab _gmn ga kecabik2 hati ini :-( ]
            Jika saudara masih menyangkal. “Anda ini banyak berbelit-belit ya, jadi orang kok banyak pertimbangan.. yah, apapun yang terjadi pasti bisa dilalui dengan berdua.”
Hmm, kalo begitu bagaimana Saudara menjelaskan tentang teman-teman kita yang sudah menikah? Emm, LULUS SMA dan ijab sah? Saya yakin banyak teman2 saudara yg Nikah duluan, atau lulus SMP bahkan. Silahkan berkomentar sendiri saja. Dalam banyak hal, mereka mempunyai “Batasan Kondisi” masing-masing. Ya karena memang kemampuan,kematangan mereka hanya sebatas itu. artinya bahwa Usia sangat berpengaruh disini. Sekali lagi, “bocah ya tetep saja bocah”.
            Dan sekali lagi, bukan saya ingin menghalang2i menikah. (la nek disuruh jujur apa ya tampang seperti saya ini nggak kepengin Nikah? Haha #ngaku juga akhirnya)
tapi  sekedar sedikit berkomentar saja kok, Bahwa “batasan kondisi” itu tak dapat kita pungkiri dan –jujur- Harus kita AKUI. Bahwa kita memilikinya. #Iya apa iya?

            Terakhir, Keempat.
            Ini ni, pertanyaan yang sering saya tanyakan. “Apakah menikah itu parameter/ukuran bahwa ia adalah jodoh kita?” hayo.. ada yang bisa jawab? (tulis dikomentar ya). Pertanyaan ini yang kadang menggangu saya, bahwa yang ada di dunia ini belum pasti, bukan angka matematis. Semuanya dapat berubah..
            So, bagi yang kebelet2 nikah di usia muda (call : selak ra betah) yuk, ambil air wudhu dan renungkan baik-baik. Jika apa yang saya tulis diatas masih kalah dengan perasaan Cinta Saudara.. maka Tanyakan lagi pada sang Cinta itu, Tanya apapun.. ^^
Oh, bentar-bentar, ini semua ga berlaku kalo memang apa yang Saudara alami sudah sampai batas “Wajib Nikah” kalo demikian ya memang harus dilakukan, g usah kebanyakan ribet ini itu.
            Jika belum, mari kita renungkan sejenak. Jangan-jangan keinginan kita itu hanya ikut arus teman2, kakak atau senior2 kita. Atau jika memang baru “merasa” SIAP saja. Oh, atau gini, saya memutuskan ini karena untuk menjaga dan terhindar saja. Hmm.. kalo demikian silahkan ambil timabangan dan timabng sendiri. Tentu bukan timbangannya sendiri lho ya. Karena, sekali lagi saya mengingatkan bedakan “menurutku” dan “kenyataan”.

            Loh, kalo gitu, bagaimana dengan yang nulis sendiri? Hwuaaa… (nah lo, kena batunya).. hhe.
Mau jawab apa ya.. haha..
Emmmm…
Teringat sebuah nasehat dan saya mayakininya. Bahwa “Jodoh itu g kemana kok” “g usah dikejar, ia akan datang sendiri..” entah bagaimana datangnya  Allah sudah mengaturnya dengan baik. Jika masih memiliki kewajiban yang harus ditunaikan maka tunaikan dulu. Married is not everything, he will call if time is coming. #trust me.. ^^
Orang sudah pada dicekoki film KCB dan sejenisnya juga. Bagaimana si Abdullah wira-wiri ngalor ngidul dan bagaimana si Nisa juga sudah nikah, namun tetap juga dipertemukan. Wes tho..

Tenang saja,. ia tak akan kemana selama kita meyakininya. Ia akan setia menunggu kok dan yang g kalah penting ia akan datang jika waktunya tiba. ^^
Jatuh bangun itu pasti ada. Bosan selama penantian itu pasti. Namun jika rasa takut atau cemas akan kehilangan itu menghampiri.. maka cek you’r iman Now!! Hehe ^^
Ingat, Ia tak akan kemana. ^^
@kangharun_

Catatan :
*          = Mahasiswa akhir yang masih kebelet Nikah (sajakke).. hha, enggak ding. Yah, pemuda yang sedang menata langkah hidup untuk masa depannya, #hueek, sok-sok wise gitu.. ^^
**        = Nama panggilan memeber “D’Punow” --> geng ra cetho penuh hasrat,  terilhami dari kekompakan tokoh wayang (punokawan_Semar, Gareng, Petruk dan Bagong)

Tanya Kenapa

SATU pertanyaan deh,
Mengapa ketika mendengar kata "Nikah" langsung jawabnya paling keras. atau ketika didoakan semoga lancar jodohnya , jawaban aamiin terkeras dan lantang. atau ketika kata "Nikah" ini selalu menjadi tranding topik dimana pun. Apakah hidup ini hanya untuk "Menikah saja?" seolah meniadakan aspek hidup lainnya. atau "Menikah" itu akhir dari tujuan hidup?


Sedangkan ketika 2 insan disatukan dalam ikatan pernikahan, belum tentu itu adalah jodohnya.
sedangkan yang lain, bahwa "Nikah" itu bukan parameter "jodoh" yang Allah janjikan itu.


Ada yang mau berpendapat? bisa share link dengan blog ini, atau dikirim via Facebook saya. atau e mail : harun_enviro@yahoo.com

~Jazakumullah~

Di sudut itu

MUA. .MUA..
Kenapa nama mu begitu sih? Membuat yang mendengar itu rindu, Membuat yang jauh itu sedih dan membuat siapa pun yang berada didalamnya itu bergumam, berbisik lirih... “i love you”

Hiih.. bener-bener kok. So unexpected pokonya. Dengan semua kemegahan mu serta predikat “unexpected” mu membuat orang yang pernah bersinggungan dengan mu merasa tercengang haru, tak menduga sama sekali. “mengapa tak ku sadari dari dulu betapa aku (manusia) ini sangat merindu yang namanya MASJID.”
Kau sudah merubah persepsi banyak orang tentang Masjid. Yang dulunya hanya beranggapan sebagai tempat ibadah saja, namun sekarang orang berpikir mencari tempat ibadah yang tidak hanya untuk berbidah fisik saja, namun juga berwisata mengarungi indahnya alunan ciptaan Tuhan, teruntuk hati tentunya. Pertama kali orang datang mengunjungi mu, hatinya berkata “waau..” ternyata ini nikmat beribadah. Jika tidak demikian mengapa ada yang jauh2 dari jakarta berkunjung hanya untukmu.

Banyak hal yang telah dilalui. Dan aku yakin disetiap dinding dan tiang mu terukir ratusan bahkan ribuan kanfas kenangan orang yang pernah bersandar kepada mu. Aku bisa melihat itu sejak pertama kali kita berjumpa.

Jumat, 21 Agustus 2010.
Pertama kali kita bertemu dan memulai perkenalan kita. Kala itu kau belum tahu siapa aku, dari mana dan bagaimana latar belakang ku. Demikian pula denganku, aku juga belum mengetahui tentang mu dan bagaimana seluk beluk mu.

Ikatan kita baru lah terjalin seminggu setelahnya. Saat aku direkomendasikan oleh Ka.Jur ku untuk tinggal di Takmir. Beliau memang sangat berjasa atas semua yang terjadi hingga sekarang ini. Berkat beliau pula aku bisa bersama mu. Menjalani semua hal dan lika liku yang pernah kita lalui. Dan kala itu aku hanya bocah ingusan yang tak tahu menahu tentang mu juga semua rahasiamu. Aku masih malu untuk bertingkah, mengeklaim bahwa kau adalah milikku. Masih canggung dengan senior-senior ku dan takut terlalu over dalam bertingkah.

Aku pun tahu kau juga malu untuk mengenalku. Aku tahu dari cara mu diam tak menyapa ku. Bagaimana kamu selalu mengamati dan memperhatikanku dari kejauhan. Itu semua nampak dari atmosfer yang kau ciptakan untuk ku ketika awal aku datang. Dan puncaknya adalah kala itu-Ramadhan pertama ku dengan mu-. Saat itu aku mulai tahu tentang mu, aku mulai dekat dengamu dan aku mulai nyaman. Harus ku akui, “nyaman”.. ya.., “nyaman!!!”. Kau diluar dugaan memang. Hati ku jatuh! Itu adalah saat hanya tersisa kamu, aku dan beberapa penguni lainnya. (H-2 dst..) pekan iktikaf yang benar2 hanat. Kau candai aku dengan cipratan-cipratan air di keran saat berbuka selesai. Kami pun harus basah mencuci tumpukan gelas dan piring para jamaah yang usai berbuka. Malamnya kau bangunkan ku, memaksa ku mengambil air wudhu untuk merendah kepada-Nya. Dan akhirnya di tengah dinginnya kabut fajar, kau menggiringku untuk memenuhi menu sahur para jamaah. Serta harus ku relakan untuk tidak merayakan hari besar dengan keluarga ku. Momen itu benar-benar antara aku dan kamu. O iya, ingatkah kamu saat malam takbir itu dikumandangkan? Hening tak ada orang yang membersamai mu selain aku dan beberapa rekan saja. Beggitu hangat dan istimewa. Dari situ lah ku tahu satu hal, bahwa kau telah menerimaku dan aku pun juga menerima mu sebagai sebuah ikatan, jalinan yang kuat. Hati ku telah terpaut untuk mu.

Di tahun pertama aku beranikan untuk banyak bertingkah dan aktif dalam segala proses. Hari berganti hari telah ku lalui. Kau pun juga mulai banyak memahami ku. Yah.. karena kau sering mendengar keluh kesah ku, kau juga sering yang menemaniku di sudut itu saat semua orang tak bisa lagi menampung semua curhatanku. karena kau juga yang mengusap air mata ku tatkala ku bersujud.

Semua hal tentangku kini kau tahu. Atas semua dosa dan kesalahan ku pun kau fasih memahami. Begitu juga denganku. Kini ku tahu semua tentang mu, semua rahasia mu dan juga sejarah masa lalu. Bagaimana semua berjalan serta proses yang berlangsung, ku tahu semua hingga ke akar-akarnya.

Dua setengah tahun berjalan, dan sekarang kau milik ku sepenuhnya.  Diantara semua nya aku lah yang paling tahu tentang mu. Aku lah yang paling mengerti tentang mu, mengenai seluk beluk mu dan semua tentang mu. Aku lah yang paling mengerti. (*cemburu ku jika kau juga diakui yang lain).

Hufh.. perasaan tidak terima itu tetep ada. Cemburu? Emm.. iya. Sekarang kau lihat banyak bermekaran penghuni baru yang akan menggantikan posisi ku disampingmu. Entah sejak kapan kalian berkenalan namun mereka sudah mulai mengenal mu, mengetahui juga seluruh seluk beluk mu. Dan di momen ini aku harus dipaksa oleh sebuah keadaan dimana aku harus meninggalkanmu. Mengurangi porsi ku untuk mu dan memprioritaskan hal lain. T.T
Sedih memang, tapi bagaimana lagi. Ku pikir kau pun juga tahu keadaan yang ku maksud tadi. Apa yang harus aku perbuat coba? Aku tak ingin jauh darimu. Dimana sekarng ini sedang betul-betul memaknai dirimu dan semua hal tentang mu. Tapi mengapa keadaan itu menimpa ku. Ok, kamu bilang itu adalah bagian dari proses kehidupan yang harus aku jalani. Tapi ini terlalu berat. Aku cacat dalam hal ini. 7 maret kemarin.. Hufh... (tahan run, jangan sampai kecplosan bocor pada tulisan ini, Tahan..)
Yah.. tapi terma kasih. Kau menemani ku. Full 24 jam. Dan kemarin itu, tak kuasa ku menahan air mata saat hakim bertanya... (hushh.... hop!! Sabar,sabar.) *skip-skip..

Hufh, baiklah.. ini mengenai sebuah pilihan kok. Aku harus siap dengan segala konsekuensi. Dan untuk mu, baik-baik ya.. ada banyak penghuni lain yang akan membersamaimu. Aku percaya mereka bisa. Jauh dan jauh lebih baik. Dan terakhir, terimakasih kado dari mu. Istimewa kok. Mulai rabu ashar itu hingga sabtu subuh, ya walau di hari kamisnya harus aku tinggal untuk menyelesaikan tugas ku sebagai seorang yg pengen berpredikat sebagai “anak sholeh”. Yah.. pokoknya g terlupa deh. Just you and me..

Dear : MUA (Masjid Ulil Albab)

Teori Papan Kayu

*Oleh: Deddy Sussantho

Jika hati itu ibarat papan kayu, maka pasangan hidup adalah pakunya. Sedang lubang yang tertinggal di papan tatkala paku dicabut adalah kenangan. Meski paku tak lagi bersarang, namun tubuh
papan telah berubah. Tubuhnya kini tak lagi mulus lantaran lubang-lubang yang bersemayam. Banyaknya lubang tentu saja tergantung dari banyaknya paku yang sempat tertanam. Dan besar kecilnya lubang tergantung pula dari bagaimana paku mengoyak papan kayu.

Harus diakui, siapa pun orang di sekitar kita pasti memiliki tempat tersendiri di hati. Berdasarkan perbedaan porsi, muncullah klasifikasi status sosial-pribadi: kenalan, teman, sahabat, saudara, keluarga, atau bahkan kekasih. Klasifikasi tersebut memiliki satu pondasi: cinta.

Ketika Akhwat Harus Memulai Sebuah “Pinangan”



Mencoba untuk menjawab diskusi yang terhenti pada sebuah pertanyaan, "sekarang aku tanya, bagaimana coba ikhtiarnya seorang perempuan/akhwat?"
#mak deg.. mikirpanjang
(waduh jadi panjang ini, dalam hati berbisik)

emm, mungkin ini bisa sedikit menjelaskan. cekidot :

NB : tapi maaf sebelumnya, karena saya ini tipe2 yang kurang setuju juga kalau akhwat/perempuan itu harus "dekem" dirumah dan ga tau dunia luar (baca=cuek). dan bla..bla..bla..
ya terserah deh, mau jaga diri,terhindar fitnah ato apalah. tapi akan saya acungi jempol banyak bagi perempuan/akhwat yang punya segudang pengalaman, ketrampilan ini itu dan "grapyak" sama orang. wa.. dapet nilai plus deh.

ok2, kembali ke benang merah. terkait dengan ikhtiar nya seorang perempuan/akhwat.
 
***


Kala hati ini bergejolak
Siapa yang tau
Ketika hati ini semakin gundah
Siapa yang tau
 
Salahkah diri ini ketika harus menawarkan diri
Aku cinta bukan untuk kehinaan
Tapi untuk kebaikan hati dalam ridho Tuhan

Pernikahan adalah suatu hal yang sangat penuh dengan nilai kebaikan dan kesempurnaan. Tak sedikit para ikhwan dan akhwat yang hatinya penuh dengan gejolak karena syahwat dunia yang semakin hari semakin sulit untuk di bendung.

Wanita butuh Kepastian



Wanita itu jahat. Kok bisa?

Misalnya nih, ada satu pasang laki-laki dan wanita yang sedang menjalani masa ta’aruf dan memiliki ketertarikan yang sama. Namun ditengah-tengah  ta’aruf mereka datang seorang laki-laki hendak melamar si wanita tersebut. Nah.. yang jadi pertanyaan adalah apa yang akan dilakukan oleh si wanita itu? Apakah ia akan tetap mempertahankan laki-laki yang sedang berta’aruf dengannya atau ia akan menerima lamaran laki-laki kedua.

Jika kamu adalah seorang wanita apa yang akan kamu lakukan?
Bingung? Galau? Ragu?

Hmm, Pasti engkau berfikir bahwa dengan laki-laki yang pertama kejelasan statusnya belum jelas. Ya..walaupun ia/laki-laki sudah berkeinginan untuk segera melamar mu, tapi itu pun belum cukup bagi seorang wanita sepertimu kan? Karena wanita itu butuh kepastian yang jelas, butuh yang pasti-pasti, tidak mlenca-mlence dan bimbang tarik ulur. Seperti itu kan prinsipmu wahai fulan?
Sedangkan laki-laki yang kedua datang dengan kepastian yang pasti, dan barangkali secara ekonomi juga sudah mapan. Tentu itu akan sedikit banyak mempengaruhi pertimbanganmu untuk menerima sang calon suami. Dan pada akhirnya engkau akan menerima lamaran laki-laki kedua dan meninggalkan laki-laki pertama yang sebelumnya kalian telah berta’aruf.
(pembahasan ini terlapas dari konsekuensi bahwa jodoh itu sudah diatur atau semacamnya lah, namun tulisan ini menggunakan sisi lain. Dengan kacamata seorang laki-laki tentunya)
***

Hujan

###Ada apa dengan Hujan? hmm.. ada2 saja pokonya

Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu

Segala seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak ’kan berubah

Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri

Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air

Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku

(Utopia-Hujan)
Link : http://www.youtube.com/watch?v=iepwSDIpjYw


BALADA SI ANAK ADAM


Dibilang cantik dikira menggoda
Dibilang jelek disangka menghina
Ditanya iya atau tidak jawabnya “Diam”
Ditanya tidak atau iya jawabnya “Diam”
Ditanya iya atau iya jawabnya “Diam”
Ditanya tidak atau tidak jawabnya “Diam”
Ketika didiamkan malah marah

Dicemburui marah-marah
tiba dikasih perhatian dan disayang nolak-nolak
*Haih..

Ditanya “jadi g ini?” jawabnya “em, g juga gpp kok”
Sama kawannya bilang gini “Huh, g pengertian banget sih..”

Itulah wanita….
Makin pria bingung, makin dia senang…..

2 Cinta


Cinta bisa datang kepada siapa saja, dimana saja dan kapan saja.

Siapa saja. Tua ataupun muda, yang belum menikah ataupun yang telah menikah. Baik laki laki ataupun perempuan. Semua memiliki kesempatan untuk menikmati cinta.

Dimana saja. Entah di gunung, laut, daratan atau langit sekalipun. Semua dapat merasakan cinta.  Karena cinta tak memandang ruang dan jarak.

 Kapan saja. Dari kecil hingga dewasa, ketika SMA ataupun kuliah. Mau hari ini atau esok. Semua penggalan waktu mempunyai hak untuk menjadi saksi atas turunnya cinta ini.

Ihiiirrrrrrrr…..


Ihiiirrrrrrrr…..

Jadi inget lagunya Drive-akulah dia
“Sesungguhnya dia ada di dekatmu
Tapi kau tak pernah menyadari itu
Dia slalu menunggumu
Untuk nyatakan cinta”

“Sesungguhnya dia adalah diriku
Lebih dari sekedar teman dekatmu
Berhentilah mencari
Karna kau tlah menemukannya”

Serasa dinyanyiin seperti ini, haha.. (Pede.. :p)
Tapi klo bener gmn ya, ternyata ******* hohohoho
“Terlalu jauh Engkau melihat,
Coba rasakan yang ada di sekitarmu”

Bersiaplah


Bersiaplah
Jenuh sudah kepala ku. Mikir ini, ngerjain ini, ngrampungin ini, wira wiri kesana kemari, serasa dunia ne hanya itu2 sja. Pagi siang malam, pagi siang malam, dan pagi siang malam. Ga ada habisnya
Yang diurus tu kalo ga masalah duit(termasuk kerja), sekolah, ya jodoh. Ibadah we buh-buhan (trans: kadang2, ga mesti). Hufh..Aaaaaaaaaarrrrrrrrrgggggggg..

#####
Skip. .skip..
bukan pada topiknya..

To : all women in the world
Bersiap-siap ya…
“Bersiap untuk saya bahagiakan dan saya kecewakan”
Akan datang waktu untuk kalian merasa sangat bahagia setelah menerima pinangan ku.
Namun akan ada waktu pula kalian merasa kecewa karena ternyata kalian tak terpilih oleh ku.
(haha… *memberanikan diri untuk tampil unggul)


Teruntuk mu yang sedang menunggu disana, sabar lah kamu menunggu saat ku ketuk daun pintu rumahmu.
Dengan berbagai kejutan dan tak disangka-sangka aku datang dengan membawa niat ikhlas untuk membawa mu kepada kehidupan ku yang berliku ini.

>Terkejut?? Ya, itu yang akan tergambar dari benak wajah mu saat yang mengetuk pintu ternyata adalah aku.
>Diam?? Ya, itu yang kamu lakukan sambil menunggu pembicaraan kami diruang tamu.
>Heran?? Ya, itu lah reaksimu menanyakan kok bisa aku yang datang.
>Tunggu beberapa hari lagi?? Ya, itu yang akan kamu putuskan setelah pembicaraan kami selesai.
>Galau?? Ya, itu perasaan mu ketika dalam masa penantian jawaban
>Senyum-senyum?? Ya, itu mimik wajahmu yang menandakan memikirkan ku terus. (beberapa hari sebelum jawaban kamu berikan.)
>“Diterima…” itulah jawaban yang kamu berikan untuk ku. Hhe…. (*duh, senengnya)

SIAP


SIAP

Dari judulnya siapa yang tau arah tulisan ini mau dibawa kemana? (eh, armada lewat..) atau ada yang bisa nebak?(acung tangan…)
itu sebenarnya pertanyaan kok, jadi yang bener : “SIAP?”



Siap untuk nikah?
Siap , calonnya sudah ada n manteb(bek) *pke Qolqolah?
Siap kena pukul orang tua , klo semisal tidak dijinkan?
Siap kuliahnya terbengkalai?
Siap mencarikan kehidupan untuk jiwa manusia selain diri kita?
Siap ngurusi bahtera rumah tangga yang baru?
dan Siap jadi omongan orang banyak karena udah nikah??

Hhe, ngeri ya.. (tumben tulisan ku agak berbobot gini) hahaha.. lagi ngeeh pa ya??
tapi sebulan ini tema tulisan-nya ga jauh-jauh dari ini kok, (wkkwkwk, ketok nek atine lagi nyimpen sesuatu.,,. Haha..)
#yoben tho. tak dokumentasikan momen gini lewat tulisan kok.

Emm, kmbali ke topic..
Sudah siapkah?? Hayo, siapa yang berani jawab?

Cinta itu...

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.

Ia mengambil kesempatan.. (Itulah keberanian.)
Atau
Ia mempersilakan.. (Yang ini pengorbanan.)

KISAH CINTA ALI BIN ABI THALIB DAN FATIMAH AZ ZAHRA


Terimakasih sudah share kisah ini, menarik..
Silahkan membacanya!!!!

KISAH CINTA ALI BIN ABI THALIB DAN FATIMAH AZ ZAHRA
Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah, Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.
”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.
 
Support : Copyright © 2011. :: Harun A. Aziz :: - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger