Tampilkan postingan dengan label Dirasah Islamiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dirasah Islamiyah. Tampilkan semua postingan

Sedekah itu nggak “Rugi” kok



Sedekah itu nggak “Rugi” kok

Ingat kawan, mari kita ingat-ingat kapan terakhir kita bersedekah…
Kadang kita itu lupa ibadah-ibadah yang beginian. Fokus sama wiridannya, belajar bahasa arab, ngaji sana-sini. Hmm..
Atau kalo nggak, sibuk sma skripsinya, sibuk sama tugas-tugasnya.. aaataaau sibuk dengan pekerjaannya. #ehem.
Atau sibuk denga wira wirinya, sementara kita lupa bahwa terdapat hak orang lain yang melekat pada diri kita masing-masing. Kalau jadi orang serakah, ya.. hak-hak itu dimakan sendiri aja. Belikan ini itu.. makan sana-sini. Hmm… kalo sudah bigini bahaya ini, ciri orang yang sampai pada level ini adalah dia yang merasa kurang terus. Apapun itu kok rasanya kurang..kurang..dan kurang. Kalo lagi garap tugas ya, kok ini tugas nggak rampung-rampung, padahal wes direwangi lembur dsb tapi kok ya masih ada juga tugas yang belum selesai. Atau klo yang lagi galau, hiih..kenapa kok rasanya suntuk banget, mau ini nggak puas, itu juga nggak puas. Hmm…

Hati-hati klo sudah demikian.
Formula obatnya adalah SEDEKAH. ya.. saya bukan promosi materi salah saatu Ustadz kondang itu, orang saya juga nggak bisa ceramah. Tapi hanya share dan refrensi nya juga bukan dari kitab-kitab gundul itu. ya..pengalaman itu refrensi nya.

Hari Rabu lalu, seminngu sebelum idul Qurban. Saya itu begadang garap revisi Laporan KP dikos temen. Eh. Asrama ding, di daerah jakal km7 itu. naah.. malemnya itu saya langusung pulan kerumah. Sampai pertigaan jakal yang utara infanteri 403 itu sya melihat bapak-bapak jual keranjang rotan (tempat baju kotor klo biasanya anak kos mesti punya). Dibawah lampu bapak-bapak itu naruh dagangannya dipinggir jalan sambil krukupan sarung. Awalnya saya langung geblaas aja. Tapi ditengah jalan, weh..jam berapa ini? Po yo laku buka dagangan jam segini. 1 lagi, perasaan aku sering lewat sini g pernah ada yang jual begituaan. Hmm.. akhirnya putar balik motor.

Ini dia Bapaknya, jual keranjang malam2 dan belum laku sema sekali

Sampe dideketnya bapak itu, nanya berapa harganya. E..ee..malah ngobrol macem-macem. Dan kagetnya ternyata belum laku sama sekali sehari, hmm,, Klo mau beli cuma ngasih untung ke bapaknya aja. Itupun berapa sih untungnya dari 1 keranjang anyaman. Dan akhirnya.. yawes lah, “pak.. niki dingge Bapak..” ngapunten saya g jadi beli.” Weh mas.. nggih matur nuwun.. :)

Yah.. dijalan itu rasanya Ploong…
Lepas dan plong rasanya, rasa cepe itu hilang, dan yang muncul adalah “senyum”, hehe…

Naa.. beberapa hari setelahnya ada kabar baik, “run, sek wingi tak transfer ke rek. Mu ya..” #alhamdulillah
“eh.. mas harun, yang September g diambil?? Loh,, dpet tho mb? Bukannya aku ijin KP kemarin?” “iya dapet, tapi cuma setengah..” #alhamdulillah

Daaaaaan tanggal 14 oktober, sebelum idul Qurban itu (puasa) bisa berbuka dengan yang manis juga. #Alhamdulillah

Daaaaaan beberapa hari setelahnya Dapat kabar gembira juga, hohoho.. sesuatu yang bikin *cetar-cetar pokonya. #alhamdulillah.

Hari kamis itu, setelah semua beres dan perjalanan pulang, kok ya jadi kepikiran, ternyata “Sedekah itu nggak rugi kok”
Allah itu sudah memberikan buuaaaanyyaaaak rizqinya, tapi cuma ngeluarin berapa sih masih mikir2. Bayangin aja deh, belakangan ini makan ya enak-enak, steak lah, mie ayam, es degan istimewa, trus makan daging itu sampe blenek, dan masih banyak wes. Pengen beli ini itu juga keturutan. Beberapa yang lalu juga diberikan rizqi Alllah bisa ambil motor sendiri. Plus kabar gembira yang itu-tu… diberikan kepercayaan lagi, hmm.. kurang banyak gimana wes rizqi Allah itu..

belum selesai mikir itu pas dijalan, sampai di lampu merah Janti liat ibu2 pke jilbab plus anak-anaknya dibawah lampu merah. Mau ngasih tapi ragu2 mau behenti. Lampu juga udah hijau. Hmm.. sampe ditangah jalan masih mikir lagi duh.. mau balik juga harus muter jembatan layang plus putar balikknya juga di Amplaz. waduh..
Sampe diatas jembatan masih kepikiran, dan akhirnya muter juga sampai di ringroad setelah jembatan. Mau dibelikan apa ya.. akhirnya dapet ini :



Hmm.. seneng rasanya, ini untuk rizqi Allah yang hari kamis lalu, saat senyum itu ternyata kembali kepadaku. Hohoho..
Termaksaih ya.. #Kode


Soul Of Ramadhan




Selasa (9 Juli 2013), kali pertama puasa di tahun 1434H ini. Suasana Ramadhan pun menghiasi setiap detik yang telah terlewati. Apa ya.. feel dan atmosfernya kerasa banget. Jika mau dibandingkan dengan kemarin hari senin, beh… jauh.
Senin kemarin saya masih melakukn aktifitas biasanya, bangun tidur, siap-siap, ngantar eyang, ke POLRES bentar, ujian, balek ke kantor dan pulang. Ya.. kurang lebih sama lah dengan rutinitas sebelum-sebelumnya. Namun menginjak maghrib itu, waaa….aaa…aaa… keren banget, jamaah mulai agak penuh di Masjid, atmosfer Ramadhan itu sudah mulai kerasa. Dan puncaknya adalah ketika Isya’. Satu rumah siap-siap semua, ummi,hamzah,huda sama unaisah. Pake mukena putih, baju koko muslim, peci dan jalanan depan rumah mulai rame dengan langkah kaki.
Oouuuhh… you know, it’s awesome.
Malam itu, kami berangkat taraweh bareng (eh nggak ding,Cuma aku sama ummi). Kami naek motor dan dijalan itu berbondong-bondong jamaah menuju Masjid. Uuuoohh.. pengen teriak betul, bener-bener kerasa feel Ramadhan nya. Dan nggak kerasa esok hari sudah memasuki bulan Ramadhan.
Dengan langkah kecil ini, serasa sudah memasuki dunia yang lain. Seharian itu ya kayak hari-hari normal itu, blas nggak ada feel apa-apa. Tapi begitu satu langkah ditegakkan, bleekk.. serasa memasuki dunia yang berbeda. Kliatan banget perbedaannya. Hmm..

Soul Of Ramadhan..

Dan untuk pertama kalinya (halah Lebay..) bukang ding, setelah sekian lama maksudnya, hampir lupa juga suasana Sahur bareng keluarga. Hehehehe.. hampir lupa juga suasana subuhan di masjid kampong. Dan hampir lupa juga suara “deerrr. .cetar..” tau apa itu? it’s call MERCON. Ckckckc…
Yakin, hampir lupa betul dengan itu, hesss.. kelingan jaman cilik pokok e.

Pagi jam setengah 8 berangkat, di sepanjang jalan..masyallah.. sepi euy. Cuaca mendung menjadikan atmosfer yang berbeda dari hari-hari lain. Seharian nggak kerasa udah terlewati begitu sana dan sampe nya dirumah inilah tidur siang pertama setelah beberapa minggu nggak pernah merasakan. #Hmm.. rasanya pengen ngolet.

Dan ini ne yang bikin “uaaaahh”, TAKJILAN.. xexe,
Soul of Ramadhan nya kerasa banget wes. Apalagi dirumh sudah disiapin tetek bengek ini itu. hmmm… perut ne seolah nggak mau diem, lirak lirik sana. Hehe..

Bener-bener sudah. Huuuuuuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhh……
#pengen teriaaak kueenceengggg banget. :-D


O Ternyata #part 1


Banyak yang tidak menyangka atau malah tidak tahu bahwa saya sebenarnya ber-background Salafi. Hehehe...
Iya betul, Abah dan Ummi memang banyak belajar dan ber-relasi dengan orang-orang salafi. Ummi itu ber-cadar kok, jilbabnya gedhe (kayak superman), gamisnya pun yang celotehnya orang-orang mirip “bangjo”, kalo g hitam, biru gelap, ijo tua ya coklat tua, pokonya seragam gitu-gitu lah.
#hufh, miris kalo keinget dulu gimana itu adalah bahan olokan ketika masa kecil dulu.

Selanjutnya, di rumah kami musik itu haram dan dilarang. Foto-foto atau gambar gitu juga kalo bisa nemu “ampuh”. TV pun juga g punya, atau pas ada TV nontonya dibatasi. Dan kalo sekarang buka2 di gudang masih nemu kok pakaian2 kecil saya yang ummi abah belikan. Ya gitu lah, alikacong (aliran katok congklang).

(Itu dulu) iya.. itu dulu, Saya menyebut “itu dulu”.
ya memang itu dulu, Bagaimana ummi membesarkan ku dengan pemahaman-pemahaman salaf dan tetek bengek didalamnya. Namun pendidikan itu hanya bertahan hingga usia Taman kanan-kanak (TK) saja. Sedikit sih sampai usia SD. Karena dengan berjalannya waktu, kami pun kini hidup ditengah masyarakat umum yang notabene melihat pemahaman yang demikian dirasa “aneh”. (baca = urip neng deso)

Nah.. sekarang? orang salafi tapi nggak nyalaf. Hhe.. (mungkin itu sebutan sekarang kali ya.) entah dimana yang salah atau bagaimana (ya memang tidak untuk menyalahkan siapa atau apa), namun hal ini dapat dijadikan perjalanan suatu proses yang telah terjalani. Sedikit banyak saya sendiri pun memang mengakui bahwa penerapan-penerapan dakwah salaf memang tidak melekat pada diri saya. Tapi sedikit banyak pula, pemahaman-pemahaman dan dasar pemikiran yang saya olah dalam otak ini juga tidak terlepas dari itu. Saya percaya dan yakin bahwa memang dakwah salafiyah lah yang memang mengacu pada “Islam” itu sendiri. Pada dasarnya memang dakwah salafiyah adalah untuk mengembalikan fitrah kehidupan manusia kepada Al-quran dan Hadits dimana mengacu pada para salafus saleh terdahulu. Ya karena kaum ini sempat dijadikan contoh sebagai kaum terbaik pada masa itu. Dan bla..bla..bla.. (kalo cerita ini 2 hari tiga malam g selesai mesti).

Jika dikatakan saya ini Muhamadiyah juga nggak (karena factor masyarakat kami saja yang kebetulan mendominasi itu). NU apalagi. Atau manhaj-manhaj yang lain? Hmm..
Saya memang KuPer kalo dalam masalah yang seperti itu. Saya lebih cenderung hidup beragama ya yang telah digariskan saja, Saya tidak mau ambil pusing. Tidak ada yang bisa menjamin dari sekian manhaj tersebut tentang “kebenaran” [Wallahu a’lam bi ash-shawab]

Hop..hop.. keluar dari topik malah.
Yah.. kita lanjutkan ke topic awal. Nah.. Dengan se-ambreg pola pembinaan salafiyah tersebut ada beberapa hal yang menurut saya menjadi sebuah bagian yang transisi atau yang saya istilahkan beralih.

Di tengah era perkembangan zaman seperti ini, munafiq ketika kita meutup mata dari semua yang terjadi, baik yang berupa perkembangan yang positive maupun yang berbau maksiat sekali pun. Ada beberapa orang memang yang menanggapi perkembangan seperti ini dengan menutup mata dan seolah-olah (dalam tanda petik) “menyendiri” membentuk komunitas sendiri. Mereka tidak mau berusan dengan dunia luar, bersinggungan dengan masyarakat luar dan terkesan –eksklusif-. Sikap yang bagi masyarakat disekitarnya (angkuh dan cuek).

Sikap ekslusif ini lah yang menurut saya karena memang ada kesenjangan kebiasaan dan pemahaman yang berbeda. Baik, sebut saja mereka yang ber-cadar hidup di tengah masyarakat desa yang notabene adalah orang-orang dengan tradisi “Jaman Doeloe”. Ada sedikit pergesekan social yang entah sadar atau tidak terjadi pada lingkup masyarakat tersebut.

Menjadi sedikit berbeda itu agak-agak gimana gitu (memang). Menjadi yang berjenggot sedikit atau jilbaber (berjilbab gedhe) sudah mendapat labeling tersendiri dari masyarakat sekitar. Ada label yang membuat hal itu menjadi terkucilkan dan dianggap berbeda Ya kalau harus jujur memang agak gimana gitu, secara psikologis munafik bila tidak mempunyai rasa seperti itu.
Poin berikutnya adalah bagaimana jika perasaan itu merong-rong pada anak yang masih kecil dan belum dapat berprinsip kuat seperti kakaknya atau kedua orang tuanya misal. Tentu akan memiliki efek tersendiri bagi si anak. Mungkin bagi kita hal itu dapat dengan mudah teratasi, ya karena kita telah memiliki prinsip dan itu wajar.

(baik, untuk pembahasan terkait anak dapat dilanjutkan pada sesi lain). Namun disini saya hanya ingin menggaris bawahi bahwa justru orang-orang yang mampu survive dalam lingkungan seperti itu lah yang benar-benar Qowi. Survive disini bukan hanya tahan dengan keberbedaannya, namun mampu berkomunikasi baik dan memberi warna pada masyarakat tersebut. Jadi tidak hanya survive dalam pandangan bertahan saja.
Catatan : itu SUSAH

Terakhir, Saya ucapkan SELAMAT kepada mereka yang mampu survive tersebut. Dan juga ungkapan terimakasih yang sebesar-besar nya atas hal yang menginspirasi tersebut. Karena orang-orang yang memiliki keberbedaan (persepsi masyarakat umum) adalah inspirasi kehidupan.

Writing Inspiration by : Ummi


Latihan Soal & Kunci Jawaban UN SD 2013




Perkenalkan,

Nama             : Harun Abdul Aziz
Alamat           : Kadipolo Rt 01 Rw 35 Sendangtirto Berbah Sleman 55573 D.I. Yogyakarta
Status             : Mahasiswa
                        Jurusan Teknik Lingkungan FTSP-UII
                        Semester 6 (Aktif)
Hobi               : Jalan-jalan (Mlaku-mlaku)
Part Time Job : Tentor Privat “Bimbingan Belajar” dan bla..bla..bla..(tidak disebutkan disini)

Saya adalah Tentor atau Tenaga Pendidik di sebuah Lembaga Bimbingan Belajar Yogyakarta. Dan disini saya ingin berbagi mengenai salah satu kesibukkan saya ini.

Saat ini saya sedang menemani seorang siswa yang akan menempuh Ujian Nasional. Ia duduk di kelas 6 SD dan akan menempuh Ujian tanggal 6 Mei depan. Banyak persiapan yang harus disiapkan memang. Dan sudah menjadi kewajiban saya untuk memfasilitasi hal tersebut. Karena memang pada dasarnya tambahan belajar melalui privat atau semacamnya memang untuk memicu anak (MAU) membuka bukunya.

Salah satu persiapan tersebut adalah Latihan Soal UN. Dan berikut beberapa Latihan Soal yang bisa di unduh (plus Kunci Jawaban juga).

Format file nya adalah Ms. Office 2010.


SELAMAT MENGERJAKAN & SUKSES SELALU


NB : jangan lupa tinggalkan komentar. Terimakasih






 
Support : Copyright © 2011. :: Harun A. Aziz :: - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger